PT Perusahaan Gas Negara Tbk. memproyeksikan pengurangapan pendapatan sejalan dengan penugasan pemerintah untuk menyalurkan harga gas khusus khusus untuk sektor industri dan pembangkit listrik.

Direktur Utama Perusahaan Gas Negara mengatakan bahwa perseroan memproyeksikan volume penyaluran gas ke pelanggan cocok dengan Keputusan Menteri ESDM 89/K2002 dan Kepmen ESDM 91K/2020 yang diawali sejak 2020 hingga 2024 diperkirakan secara akumulasi kerugian yang dialami PGN sebesar US$801,38 juta setara dengan Rp11,54 triliun (kurs Rp14.400/US$) dengan menggunakan Fill Rite Flow Meter.

“Memang kami sharing pain-nya kami memang mengalami penurunan pendapatan
Dia mengatakan bahwa sepanjang menjalankan tugas tersebut, emiten berkode saham PGAS telah laksanakan efisiensi-efisiensi, serta laksanakan integrasi bisnis guna menekan kerugian.

Menurut dia, kebijakan ini wajib dievaluasi lebih lanjut mengingat masih rendahnya serapan gas yang dimanfaatkan industri dan pembangkit listrik. Menurutnya, dengan pengorbanan yang telah dilakukan negara dan perseroan, semestinya kebijakan itu berikan pengaruh berganda yang baik.

PGN mengusulkan pemberian insentif cocok dengan kewenangan Menteri ESDM atas unutilized atau volume yang tak terserap dari alokasi pasokan gas harga gas bumi khusus (HGBT) yang tersalurkan kepada pelanggan non-HGBT sebesar US$57,1 juta untuk mampu dimanfaatkan PGN sebagai off set atas penurunan gross profit PGN Group. “Benar bahwa kami hari ini sebagai perusahaan terbuka selalu wajib mempertanggungjawabkan penugasan. Untuk itu kami memohon insentif,” ungkapnya.

By toha