Global Haditech Sediakan Alat Ukur Produksi Migas

Alat ukur mengolah atau flow meter lc M10 langsung terpasang di lokasi kerja minyak dan gas bumi (migas). Hal ini menyusul keputusan SKK Migas yang telah menentukan perusahaan pengadaan alat tersebut.

Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas Djoko Siswanto menyebutkan penyediaan flow meter lc m10  ini dapat dilaksanakan oleh pemenang sistem tender. “PT Global Haditech (pemenangnya),” kata dia kepada Katadata beberapa selagi lalu.

Dilansir berasal dari situs resminya, PT Global Haditech merupakan perusahaan instrumen rekayasa dan pasokan industri yang berkantor pusat di Jatibening, Bekasi, Jawa Barat.

Perusahaan ini berdiri sejak 1995 bersama cakupan usaha meliputi kilang minyak dan gas, pengolahan Petrokimia, pupuk Produksi dan terhitung pertambangan. Secara terpisah, Kepala Humas SKK Migas Taslim Z. Yunus mengatakan, sistem tender masih dalam langkah penyelesaian.

Rencananya akhir bulan ini pengadaan alat ukur mengolah selesai dan jadi dipasang ke beberapa lokasi kerja migas.

Proses pengadaan alat ukur ini masih kenakan dana kas SKK Migas. Sebelumnya, Taslim pernah mengatakan, SKK Migas tunggu persetujuan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) berasal dari Kementerian Keuangan untuk pengadaan alat ukur. Alasannya selagi instruksi pemasangan alat ukur diberikan Kementerian ESDM terhadap akhir tahun lalu, program flow meter belum masuk DIPA SKK Migas.

Namun Taslim belum rela menyebutkan kuantitas investasi yang kudu dikucurkan SKK Migas untuk lakukan tender flow meter itu. ”Ini program yang belum dianggarkan sebelumnya. Nanti rela dimasukkan dalam revisi, tetapi sekarang kami memangkas biaya berasal dari yang lain-lain,” kata Taslim.

Pemasangan flow meter ini mengacu terhadap Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 39 Tahun 2016 perihal sistem monitoring mengolah minyak bumi berbasis online real time. Dalam aturan tersebut, paling lambat pemasangan flow meter .

Pemasangan alat ukur dapat dilaksanakan bertahap di beberapa lokasi kerja. Pada langkah awal, pemerintah dapat memprioritaskan lapangan-lapangan besar yang punyai mengolah tinggi. Setelah itu di lapangan lain sampai semua terpasang